Pers Diserang dengan Ancaman, Oknum NS Diduga Kalap Saat Pemberitaan Mulai Menyentuh Fakta Sensitif

ASWAR

- Redaksi

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:55 WIB

5065 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detiktimur.net Deli Serdang – Oknum berinisial NS diduga menunjukkan kepanikan saat pemberitaan terkait dirinya mulai ditelusuri awak media. Bukannya tampil memberi klarifikasi secara terbuka, NS justru diduga memilih cara murahan dengan mengirim pesan WhatsApp bernada tekanan kepada wartawan SN.

 

Dalam percakapan tersebut, NS diduga mempertanyakan legalitas wartawan, memaksa ingin bertemu, hingga melempar ancaman “jumpa di jalur hukum”. Cara seperti ini dinilai bukan lagi bentuk keberatan biasa, tetapi sudah mengarah pada upaya intimidasi terhadap kerja jurnalistik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Secara rasional, orang yang merasa benar biasanya datang membawa data dan bantahan, bukan sibuk menggertak wartawan lewat chat pribadi. Reaksi emosional dan penuh tekanan seperti ini justru memunculkan pertanyaan besar di tengah publik: ada apa sebenarnya sampai pemberitaan harus direspons dengan ancaman?

 

Publik tentu bisa menilai sendiri. Ketika sebuah informasi dianggap tidak benar, mekanisme hukumnya jelas, yaitu hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Pers. Namun yang terjadi justru tekanan personal terhadap wartawan. Pola seperti ini sering muncul ketika ada pihak yang mulai ketakutan karena fakta perlahan terbuka ke permukaan.

 

Ironisnya, NS diduga seolah ingin membangun ketakutan agar media berhenti memberitakan persoalan yang sedang ditelusuri. Padahal wartawan bekerja berdasarkan investigasi, data, hasil konfirmasi, dan fakta lapangan, bukan sekadar opini kosong atau karangan liar.

 

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers secara tegas menjamin kemerdekaan pers dan perlindungan terhadap wartawan. Bahkan Pasal 18 ayat (1) menyebut siapa pun yang sengaja menghambat atau menghalangi kerja jurnalistik dapat dipidana penjara hingga dua tahun atau denda Rp500 juta.

 

Artinya sederhana, wartawan bukan pihak yang bisa ditekan seenaknya hanya karena pemberitaan mulai menyentuh kepentingan tertentu. Ancaman tidak akan menghapus fakta. Tekanan juga tidak akan membuat publik berhenti bertanya.

 

Dikutip dari Media CNEWS.web.id sendiri dalam pedoman redaksinya menegaskan bahwa kemerdekaan pers merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang. Ini berarti setiap bentuk tekanan terhadap wartawan bukan hanya serangan terhadap profesi jurnalis, tetapi juga serangan terhadap hak publik untuk mengetahui informasi.

 

Yang menarik, semakin keras upaya membungkam wartawan, semakin besar pula kecurigaan masyarakat bahwa ada sesuatu yang memang sedang ditutupi. Karena jika tidak ada persoalan, seharusnya cukup jawab dengan data, bukan sibuk bermain gertakan dan ancaman hukum.

 

Pers bukan alat yang bisa dikendalikan dengan tekanan. Wartawan bukan bawahan yang bisa disuruh diam ketika fakta mulai terbongkar. Tugas pers adalah menyampaikan informasi kepada publik, meskipun ada pihak-pihak tertentu yang merasa terganggu dengan munculnya kebenaran.

 

Meski mendapat tekanan dan ancaman, awak media tetap membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada NS maupun pihak terkait lainnya. Namun publik hari ini sudah cukup cerdas untuk menilai, siapa yang sedang menyampaikan fakta dan siapa yang justru sibuk berusaha menutupinya.

 

Red/Tim

Berita Terkait

Ketua Presidium FPII Dra Kasihhati Hadiri Pelantikan Kalapas Musi Banyuasin dan Kalapas Lahat di Sumsel
Laporan Dugaan Penipuan di Polda Sumut Sudah 8 Bulan Terbengkalai, Keluarga Pelapor LA Pertanyakan Pemeriksaan Terlapor
Kodam XIV/Hasanuddin Kirim 2.212 paket Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT
Pengurus Baru PWI Sulsel Kunjungi TVRI, Bahas Pelatihan Wartawan dan Konten Berkualitas
Rutan Tarutung Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Bupati Tapanuli Utara dan Forkopimda Langsung Serahkan Remisi kepada Warga Binaan
Kombes Pol H.M. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H. Dirlantas Polda Sumatera Barat Mengucapkan HUT DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-80 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2026
KAMMI Deli Serdang Mengapresiasi Kinerja DLH Deli Serdang Dibawah kepemimpinan Bapak Rio Lakadewa
KAMMI Deli Serdang Dukung Bappeda Tingkatkan PAD, Ajak Pengusaha dan Masyarakat Bersama Bangun Daerah

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:15 WIB

Temu Ramah Kapolres Gayo Lues Bersama Insan Pers, Ajak Perkuat Sinergi, Tegaskan Komitmen “SIGAP”

Kamis, 20 Agustus 2026 - 04:36 WIB

Penyedia Jasa Mengeluh, Pembayaran Sewa Alat Berat Pascabencana di Gayo Lues Tersendat

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:27 WIB

Hari Bhayangkara Ke-80, Kapolres Gayo Lues: Tingkatkan Pelayanan Terbaik Kepada Masyarakat

Kamis, 7 Mei 2026 - 08:46 WIB

Ganti Nama Tak Menyapu Bersih Jejak Lama, PT Rosin Masih Dipersoalkan Publik

Kamis, 7 Mei 2026 - 05:33 WIB

PT Rosin Dinilai Menantang Penegakan Hukum, Publik Menyebutnya Seolah Kebal Hukum

Rabu, 29 April 2026 - 03:54 WIB

PT Rosin Trading Internasional di Gayo Lues Kian Dipersoalkan, dari Legalitas Usaha hingga Dugaan Masalah Ekspor

Selasa, 14 April 2026 - 19:47 WIB

Di Pengadilan Negeri Blangkejeren, Rabusin Ungkap Cacat Hukum dan Lemahnya Penegakan Fakta Hukum

Rabu, 8 April 2026 - 01:00 WIB

Ketika Unsur Pidana Dipertanyakan dan Bukti Tak Meyakinkan Beranikah Hakim Memvonis

Berita Terbaru